Saturday, February 16Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Budaya Pemain Sepakbola Brasil Yang Sudah Jarang Digunakan Saat Ini

Budaya Pemain Sepakbola Brasil Yang Sudah Jarang Digunakan Saat Ini

Penggemar sepakbola Brasil jaman dulu menyukai teknik permainan serta prestasi para pemain tersebut, tapi juga senang membaca nama mereka karena nama-nama tersebut singkat dan mudah diingat. Saat itu para pemain Brasil memang mempunyai budaya yang unik. Yaitu mencantumkan nama julukan atau pun nama panggilan di seragam atau daftar pemain. Dibanding nama asli mereka. Julukan-julukan tersebut pun berbeda dari singkatan nama, dan mempunyai arti tersendiri. Dari sini, kita bisa mengenal nama-nama legendaris seperti Pele, Zico, Cafu, dan lain sebagainya.

Arti julukan para pemain Brasil tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan mereka, ataupun lokasi asal. Contohnya adalah mantan pemain Atletico Madrid dan Middlesbrough bernama asli Osvaldo Giroldo Júnior. Mempunyai nama julukan Juninho Paulista yang berarti Junior dari daerah Paulista (Sao Paulo). Sedangkan Juninho Pernambucano berarti adalah Junior yang berasal dari daerah Pernambucano.

Orang Brasil juga cukup sering menambah akhiran “-inho” yang berarti kecil atau junior di belakang julukan mereka. Kekecualiannya adalah pemain Barcelona Philippe Coutinho yang mempunyai nama asli Philippe Coutinho Correia. Nama Coutinho bukanlah merupakan julukan, tapi memang merupakan nama asli. Julukan yang menggunakan kata “-inho” contohnya Fabinho, Marquinhos atau Paulinho. Sedangkan jika akhirnya “-ao” artinya besar.

Tim Brasil pada Piala Dunia 1958 yang diperkuat oleh Pele, adalah tim awal yang menggunakan julukan dibanding nama lengkap mereka. Dan hal ini sangat disukai penonton sehingga menjadi budaya yang dipakai seterusnya oleh para pemain Brasil. Zito, Didi, Garrincha, Vava, dan juga Pele adalah nama-nama yang muncul dan kemudian dikenal dunia. Walaupun pada awalnya para wartawan Eropa merasa bingung dengan julukan tersebut. Bahkan koran Aftonbladet dari Swedia pernah melakukan kesalahan bahwa tim Brasil akan bermain melawan Austria dengan formasi pemain : Dudu; Dada, Dudu; Dodo, Dudi, Duda; Didi, Dida, Dadi, Deda dan Dade.

Tapi sekarang jumlah pemain Brasil yang menggunakan nama panggilan atau julukan, jauh lebih sedikit dibanding jaman dahulu. Contohnya adalah pemain Manchester City Gabriel Jesus, mempunyai julukan Borel saat dia masih belajar di akademi sepakbola Palmeiras. Tapi setelah dia mulai terkenal, dia tidak lagi menggunakan julukan Borel tersebut, dan kini penggemar sepakbola internasional jarang sekali yang mengetahui julukan Borel itu.

Julukan para pemain Brasil pada jaman dahulu terasa intim bagi penggemar, contohnya Carlos Caetano Bledorn Verri diberi panggilan Dunga yang berarti Dopey, salah satu anggota dari 7 Kurcaci dalam bahasa Portugal. Ada juga pemain yang mendapat julukan dari super hero (Hulk), penyanyi Pop (Adriano Michael Jackson), Pokemon (Yago Pikachu), badut terkenal (Careca, singkatan dari badut terkenal Brasil Carequinha), keturunan anjing (Claudio Pitbull), dan bahkan ukuran kepala (Ruy Cabecao, yang berarti Ruy Berkepala Besar)

Memang masih banyak sekali pemain Brasil pada masa kini yang menggunakan nama panggilan. Tapi sebagian besar merupakan singkatan dari nama lengkap mereka yang panjang dan juga susah diingat. Beberapa pemain yang masih setia menggunakan singkatan pada saat ini contohnya adalah mantan pemain Tottenham Hotspur yaitu José Paulo Bezerra Maciel Júnior yang dijuluki Paulinho. Ada juga pemain PSG Marcos Aoás Corrêa alias Marquinhos, dan sebagainya.

Grafite adalah pencetak gol terbanyak Bundesliga dan pemain terbaik ketika dia membantu Wolfsburg memenangkan gelar musim 2008/09. Dia pun bercerita saat pertama kali mendapat julukan tersebut yaitu ketika masuk akademi sepakbola Matonense. Ternyata pemain yang bernama lengkap Edinaldo Batista Libânio ini dipanggil Grafite karena pelatihnya pernah bermain dengan pemain jangkung bernama Grafite dan mirip dengannya. Saat dia berkata bahwa temannya memanggilnya dengan nama “Dina”, pelatihnya berkata bahwa julukan tersebut terlalu bagus untuk pemain sepak bola dan tidak akan cocok. Karena dia tak dapat menolak perintah pelatih, maka Edinaldo terpaksa menggunakan julukan Grafite.

Pertama dia memang tidak suka dengan julukan tersebut, tapi kemudian dia merasa tidak menyesal menerimanya, karena julukan tersebut membuat penonton mudah mengingatnya. Saat dia bermain sebentar di Korea Selatan di klub FC Seoul, dia terpaksa tidak memakai julukan Grafite karena orang Korea sulit mengucapkannya, dan dia menggunakan nama Batista di seragamnya. Dan ketika dia bermain di Bundesliga, banyak orang Jerman yang memanggilnya Graffa dan dia menyukainya hingga memakai nama itu di akun media sosialnya. Grafite juga berkata bahwa bermain bola saat ini semakin membosankan, dan nama-nama julukan tersebut bisa membuat hidup lebih berwarna.

Pemain Brasil juga bisa saja mengganti nama julukan mereka saat masih muda. Dan merubahnya ketika mereka sudah dewasa dan lebih terkenal atau menghapusnya seperti Gabriel Jesus. Contohnya adalah Lucas Rodrigues Moura da Silva alias Lucas Moura. Pernah dijuluki Marcelinho ketika masih muda karena dia memang berlatih di Marcelinho Carioca’s football school.

Legenda Brasil Tostao alias Eduardo Gonçalves de Andrade yang berarti adalah “koin kecil”. Cukup menyayangkan pada para pemain yang menghilangkan julukan masa kecil. Seperti Gabriel Jesus dan juga Lucas Moura. Dia berkata bahwa sikap tersebut harus dipelajari oleh psikolog. Dia juga yakin bahwa pengaruh budaya Eropa yang telah merasuki para pemain muda Brasil saat ini, merupakan hal yang membuat budaya julukan tersebut hilang.

Salah satu pemain terbesar Santos sepanjang masa yaitu Pepe. Yang telah mengangkat dua trofi Piala Dunia pada tahun 1958 dan 1962, mengklaim budaya Brasil selalu informal dan santai dan tidak mengerti mengapa sekarang harus berubah di lapangan. Mantan pemain sayap kiri dan juga partner utama Pele di Santos selama lebih dari satu dekade berpendapat bahwa hilangnya nama panggilan hanya akan meningkatkan hambatan bagi penggemar yang berharap untuk menikmati hubungan yang lebih intim dengan pahlawan mereka.

“Saya bermain dalam waktu yang indah untuk sepakbola Brasil, Piala Dunia 1958, 1962 dan 1970, ketika ada begitu banyak pemain berjuluk. Tapi sekarang mereka tidak seperti itu lagi. Saat ini, mereka justru lebih suka dipanggil dengan nama-nama yang diberikan. Membuatnya lebih sulit bagi penggemar untuk membangun ikatan dengan idola baru, ” ujar Pepe.

“Saya bangga dikenal sebagai Pepe. Seperti saya, ayah saya bernama Jose Macia dan juga dijuluki Pepe. Jauh lebih mudah bagi para pendukung untuk mengagumi pemain sepak bola dengan julukan seperti Pele dan Garrincha daripada mengatakan, ‘Pemain favorit saya adalah Manuel Francisco [nama Garrincha].’ Semuanya menjadi terlalu formal. “

Related Post

Tiada Hari Tanpa Medali Emas Sampai Hari Keenam As... Sampai hari ke-6 Asian Games Indonesia tidak berhenti untuk meraih Medali Emas dan itu adalah suatu pencapaian yang sangat baik. Menjadi Tuan rumah ...
Beli Barang Ini Di Toko Online, Bocah Ini Mendadak... Sederet selebritis mempercantik dirinya dengan harga yang tidak murah. Namun harga mahal yang dibayar tersebut sebanding dengan apa yang mereka dapatk...
Inilah Kronologi Foto Selfie Polwan Di Makassar Seorang Polwan di daerah Polrestabes Makassar, Brigadir Polisi (Brigpol) Dewi, dipecat lantaran swafoto miliknya telah tersebar di media sosial. Ane...
Ratu Inggris Ungkapkan Hal Ini Pada Australia Ratu Elizabeth II, sedang menunggu lonceng kematiannya. Sebelum wafat, dia mempersilakan Australia jika ingin melepaskan diri dari Kerajaan Inggris ...