Tuesday, September 29Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Yang Terjadi Saat Jokowi Dan Prabowo Bertemu Di Acara Kawinan

Apa Yang Terjadi Saat Jokowi Dan Prabowo Bertemu Di Acara Kawinan

Prabowo Subianto membongkar sebuah kisah dirinya dihalang-halangi saat hendak menyelami Presiden Jokowi. Momen tersebut terjadi di sebuah acara perkawinan yang sama-sama dihadiri oleh Prabowo Subianto dan juga Presiden Jokowi. Prabowo memang telah mengungkapkan hal itu, dengan terlebih dahulu bercerita mengenai kekhawatirannya terhadap orang-orang yang berada di sekeliling Presiden Jokowi.

Prabowo Subianto menyampaikan analisanya itu saat diwawancara secara eksklusif oleh Alfito Deannova Gintings, Jurnalis Senior CNN, dan diposting di akun youtube CNN Indonesia dengan judul ‘Prabowo Subianto – Politik Sang Penantang’. Prabowo juga telah mengungkapkan kekhawatirannya itu setelah terpancing dengan pertanyaan yang diajukan oleh Alfito Deannova Gintings.

Alfito Deannova Gintings bertanya bahwa sekarang Prabowo Subianto sekarang sudah memiliki ruang bicara yang lebih cair dengan Presiden Jokowi. Prabowo Subianto kemudian juga bercerita tentang kekhawatirannya terhadap orang-orang yang ada di sekeliling Presiden Jokowi. Prabowo Subianto mengungkapkan jika kekhawatirannya itu memang berdasarkan pada pengalaman pribadinya yang selalu dekat dengan pemimpin-pemimpin terdahulu.

“Hubungan saya dengan Bapak Presiden Jokowi selalu baik,” ujar Prabowo Subianto. Namun, berdasarkan pengalamannya, pemimpin selalu saja memiliki lingkungan di sekitarnya yang disebut dengan inner circle. Menurutnya, orang-orang di lapisan inner circle itu adalah yang memang bisa memberi berbagai macam masukan kepada pemimpin.

“Tapi pengalaman saya. Saya agak dekat dengan beberapa pemimpin. Presiden Soeharto saya lihat dari dekat, Habibie saya juga dekat. Disekitar pemimpin ada yang disebut dengan bubble. Dan inner circle¬† atau bubble dalam lapisan ini selalu memberi masukan yang bisa objektif, setengah objektif, dan bisa pula tidak objektif,” ujar Prabowo.

Prabowo Subianto kemudian juga memberi contoh yang ia alami di sebuah acara perkawinan yang ia datangi. Prabowo Subianto datang sebagai tamu di perkawinan tersebut dimana ternyata Presiden Jokowi ternyata juga diundang. Namun Prabowo Subianto ternyata juga tidak tahu bahwa saat ia datang Presiden Jokowi sudah datang terlebih dahulu.

Prabowo bilang namanya diumumkan saat tiba di perkawinan tersebut, dan melihat bahwa Presiden Jokowi baru saja turun memberi selamat kepada pengantin, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Prabowo Subianto lalu pergi ke pelaminan pula untuk bersalaman, dan bermaksud menghampiri Presiden Jokowi yang berada di kursinya.

“Saya merasa itu ada Presiden alias Kepala Negara jadi pantas jika saya datang untuk menyapa dan menghormati,” ujar Prabowo Subianto. Tapi yang terjadi justru Prabowo dihalangi-halangi saat ingin bersalaman dengan Presiden Jokowi. “Saya bilang ini mau kasih selamat ke Presiden, tidak boleh. Bayangkan yang melarang itu Paspampres. saya tahu mungkin saja dia ada perintah,” ujar Prabowo.

Untungnya ada beberapa yang akhirnya menyadari dan melihat Prabowo, lalu memberitahukan ke Presiden Jokowi. “Untung dari lingkungan Presiden ada yang lihat, dan akhirnya Pak Jokowi datang menghampiri saya,” ujar Prabowo Subianto. “Saya khawatir ada orang-orang yang selalu, tapi ini hanya kekhawatiran saya saja. Dan itu wajar, karena dalam sistem politik itu memang sering terjadi,” kata Prabowo Subianto.

Di tengah wawancara, Jurnalis Senior dari CNN Indonesia, Alfito Deannova Gintings, memberi penilaian jika sosok Prabowo Subianto yang ia wawancarai sekarang adalah ‘New Prabowo’. Alfito memberi penilaian tersebut karena menilai sosok Prabowo di tahun 2018 ini beda dengan Prabowo Subianto yang telah ia lihat 5 tahun lalu.

“Salahkah jika saya kemudian menilai memang bapak menjadi new prabowo. Karena mungkin yang terjadi seperti pelarangan dan sebagainya tentu bapak akan marah jika ini terjadi 5 tahun yang lalu,” ujar Alfito. Jurnalis CNN Indonesia ini juga menilai bahwa sosok Prabowo Subianto tahun 2018 lebih akomodatif dan kompromistis.

Prabowo Subianto tertawa mendengar kesimpulan yang diambil Alfito itu. “Tidak lah, itu hanya mitos yang telah dibuat bahwa saya suka marah-marah dan sebagainya. Itu hanya mitos saja. Tolong dibedakan, selalu saya katakan bahwa tak ada itu the real atau the new prabowo,” ujar Prabowo Subianto. Prabowo kemudian juga menjelaskan bahwa dia dibesarkan dalam pasukan tempur.

Prabowo Subianto kemudian juga menyebut kalau memimpin pasukan tempur seperti memimpin harimau. “Saya sering pula bercerita jika pasukan tempur itu adalah harimau-harimau yang telah saya pimpin. Benar kan dan harimau-harimau ini memiliki senjata. Jika saya memimpin dengan lemah gemulai, maka waduh harimau bisa makan saya. Benar tidak,” kata Prabowo Subianto.

Prabowo pun mengingat sebuah peristiwa saat ia baru 3-4 hari menjabat sebagai Wakil Komandan Batalion 328. Prabowo ingat jika saat itu telah terjadi peristiwa saat seorang sersan mayor mengejar seorang letnan dua dengan menggunakan sangkur. “Aduh bagaimana ini, karena sersan mayor ini pengalaman tempurnya lebih banyak. Letnan ini baru saja lulus Akabri dan marah-marah, bentak-bentak, juga sebagainya, tersinggung orangtua yang satu ini. Jika orang tua yang berpengalaman tempur banyak tersinggung, bisa repot itu dan akhirnya saya harus menjadi penengah,” ujar Prabowo.

Prabowo bahkan menyebut ketika itu jika pidato ia harus berbicara keras. Sebab kalau tidak, bisa tidur para audiencenya. Terkait pendapat yang menyebut ia kini lebih akomodatif dan kompromistis, Prabowo mengatakan bahwa dia telah percaya jika hidup itu ujungnya adalah kompromi. “Jadi kita memang harus selalu cari jalan tengah kalau menurut saya. Saya memang selalu percaya kalau perjalanan hidup kita pada ujungnya semua memang harus kompromi dan indonesia kini selalu saja cari jalan tengah dan itulah yang paling bagus untuk kita,” ujar Prabowo Subianto.