Thursday, July 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Saja Yang Harus Diketahui Dari Penyakit Cacar Monyet

Pihak berwenang Singapura telah mengonfirmasi kasus monkeypox atau cacar monyet pertama di negara itu, yang didapati pada seorang warga Nigeria yang tiba di Singapura 28 April lalu. Pria berusia 38 tahun itu dinyatakan positif terjangkit virus cacar monyet pada tanggal 8 Mei.

Sehari setelah kedatangannya di Singapura, pria tersebut sudah menghadiri lokakarya selama dua hari. Pada 30 April, ia menderita demam, nyeri otot, ruam kulit dan menggigil. Dia juga menghabiskan sebagian besar waktunya satu minggu kemudian di kamar hotelnya. Hingga akhirnya pada tanggal 7 Mei, ia harus dibawa dengan ambulans ke RS Tan Tock Seng.

Kini ia pun sudah berada dalam kondisi stabil di bangsal isolasi National Centre for Infectious Diseases (NCID). Demikian pernyataan yang telah dirilis media dari Kementerian Kesehatan Singapura. Pria itu mengatakan bahwa sebelum kedatangannya di Singapura, ia menghadiri sebuah pernikahan di Nigeria, di mana ia mungkin mengonsumsi daging hewan liar, yang bisa menjadi sumber penularan virus cacar monyet.

Apa itu cacar monyet?

Melalui rilis yang tertulis dari Kemenkes RI yang disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Anung Sugihantono, M.Kes kepada DW Indonesia, cacar monyet didefinisikan sebagai penyakit akibat virus yang ditularkan ke manusia melalui binatang, seperti monyet, tikus Gambia dan tupai.

Penularan pada manusia dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Namun memang sangat jarang ditemukan kasus penularan dari manusia ke manusia.

Wilayah di mana kerap ditemukan penyakit cacar monyet secara global yaitu di Afrika Tengah dan Barat seperti di Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan.

Bagaimana gejalanya?

Masa inkubasi atau interval dari infeksi ini sampai timbulnya gejala penyakit cacar monyet biasanya bisa memakan waktu berbeda. Yaitu sekitar 6 hingga 16 hari tetapi juga dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Gejala yang timbul biasanya berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Ruam pada kulit juga muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar, lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga sekitar 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Bagaimana pengobatannya?

Menurut pernyataan dari Dirjen P2P Kemenkes RI, cacar monyet biasanya memang merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Atau dengan gejala yang berlangsung selama kurang lebih 14 – 21 hari. Kasus yang parah juga lebih sering terjadi pada anak-anak dan tergantung pada tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian pun bervariasi tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan. Penderita penyakit ini sebagian besar di antaranya memang adalah anak-anak. Tidak ada pengobatan khusus atau pun vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox. Pengobatan simptomatik (pengobatan untuk meredakan gejala dari penyakit) dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

Ada kasus di Indonesia?

Hingga saat ini belum ditemukan kasus cacar monyet yang ada di Indonesia. Sebagai tindakan preventif maka melalui akun instagram safetravel.kemlu mengambil tindakan. Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan imbauan pada WNI yang berada di Singapura untuk mengikuti perkembangan melalui media lokal dan situs Kementerian Kesehatan Singapura. Selain itu, WNI yang memiliki rencana untuk bepergian ke negara Afrika Tengah dan Barat juga diimbau untuk selalu menjaga pola hidup yang higienis. Seperti menghindari kontak langsung dengan bangkai hewan dan tidak mengonsumsi daging satwa liar.

Kepada DW Indonesia, Direktur P2P, Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes juga menjelaskan bahwa pemerintah pusat melakukan “koordinasi dengan Dinas Kesehatan Batam dalam hal prevent dan detect penyakit publik yang menjadi perhatian internasional melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang telah menjaga pintu masuk negara dalam bidang kesehatan.”

Di Batam dan juga Pekanbaru, pemeriksaan penumpang yang baru datang dari luar negeri diperketat. Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam dan Otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru mengaktifkan alat pemindai panas untuk memantau penumpang dari Singapura yang berpotensi terjangkit virus cacar monyet.

“Dinas Kesehatan juga telah meminta Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan di Pekanbaru untuk memantau dan pengawasan terhadap penumpang pesawat. Khususnya yang berasal dari Singapura dan penumpang yang berasal dari Batam, karena banyaknya masyarakat Riau yang sudah bepergian ke Singapura melalui Batam,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Nazir, seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Selain itu, Kemenkes juga sudah mengimbau agar pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit cacar monyet agar segera memeriksakan dirinya. Jika mengalami gejala-gejala demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan juga ruam kulit. Dimana hal itu dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, serta menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.