Friday, September 25Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Itu Toxic Family Yang Gencar Menyerang Keluarga Milenial

Apa Itu Toxic Family Yang Gencar Menyerang Keluarga Milenial

Gambaran keluarga harmonis nan suportif antar-anggotanya menjadi idaman banyak orang. Begitu pula kehidupan pernikahan yang memompa kesejahteraan individu. Namun, kenyataannya, tidak semua orang beruntung mengecap hal-hal seperti itu. Sejak masih kanak-kanak, beranjak dewasa, atau ketika membentuk rumah tangga sendiri, sebagian orang dihadapkan dengan anggota keluarga yang malah menghambat perkembangan dirinya.

Sikap-sikap beracun dari anggota keluarga dapat ditemukan dalam relasi suami dan istri, orangtua dan anak, maupun antar-saudara kandung dan kerabat. Ada sejumlah tanda suatu situasi berubah dari “drama” keluarga yang masih tergolong lumrah menjadi toxic family.

Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah setiap kali memikirkan akan berinteraksi dengan anggota keluarganya, atau saat tidak ada hal positif yang didapat dari interaksi tersebut, hal ini dapat mengindikasikan adanya situasi toxic family. Secara umum, dalam sebuah hubungan termasuk relasi keluarga, situasi tidak sehat berakar dari permasalahan komunikasi dan penerapan batasan-batasan yang jelas.

Di samping itu, hal ini dapat tersirat pula dari pola perilaku pihak-pihak yang terlibat. Dilansir Science of People, orang-orang “beracun” terlihat suka mengatur hidup orang lain; gemar menonjolkan dan mengutamakan dirinya sendiri atau menunjukkan sikap narsisis; selalu berpandangan negatif dan membuat situasi menjadi pesimis atau suram; senang menciptakan drama dan mencari-cari hal yang salah dari sesuatu; mudah cemburu dan menghakimi; suka memanipulasi atau berbohong; juga sering mengabaikan perasaan dan pandangan orang lain serta selalu merasa paling benar.

Perlakuan Buruk Antar-Pasangan

Di samping gambaran umum orang-orang ‘beracun’ tadi, dalam konteks rumah tangga, hubungan tidak sehat dapat terlihat dari adanya pembatasan akses atau kebebasan oleh satu pihak terhadap yang lainnya. Sebagai contoh, seorang istri tidak diizinkan untuk beraktivitas di luar rumah oleh sang suami dengan alasan takut selingkuh.

Contoh lain, seorang istri kerap curiga, sering mengecek gawai suami sebagai wujud rendahnya kepercayaan terhadap suaminya itu. Sikap mendahulukan pasangan agar dirinya terus bisa diterima menjadi pemicu situasi rumah tangga tak sehat karena artinya, seseorang mengorbankan hal-hal yang membentuk dirinya sendiri: nilai-nilainya, keinginan, relasinya dengan orang-orang lain, bahkan mungkin identitasnya.

Tidak semua orang memperlihatkan sikap mengontrol secara gamblang. Ada orang yang memilih sikap pasif-agresif untuk mewujudkan dominasinya terhadap pasangan. Di hadapan pasangannya, orang tersebut berkata ya, sementara tindakannya menunjukkan hal sebaliknya.

Di lain sisi, ada orang-orang yang tidak terima dengan sikap mengontrol pasangan, tetapi masih saja bertahan dalam pernikahan. Alhasil, pertengkaran nyaris tak berkesudahan menjadi tidak terhindarkan. Menurut data Pengadilan Agama yang dikutip dalam CATAHU Komnas Perempuan 2018 (PDF), hal ini menjadi penyebab perceraian tertinggi pada 2018 dengan total 140.375 dari 335.062 temuan.

Saat Anak Dicekoki Orangtua Hal yang Merusak Dirinya

Tanggung jawab yang diletakkan di pundak orangtua untuk membesarkan anak kerap memberi mereka hak untuk mengarahkan si anak sesuai kehendak mereka. Tidak semua orangtua membimbing anak dengan mempertimbangkan apa yang diinginkan atau dibutuhkan si anak sendiri. Sebagian dari mereka meletakkan keinginan mereka sendiri di atas kepentingan si anak atas nama “kebaikan untuk anak”.

Sikap mengkritik tanpa henti, mengancam, dan kerap mengucapkan hal-hal buruk tentang anak merupakan ciri pertama orangtua “beracun”. Berapa kali pun anak mencetak prestasi, setinggi apa pun capaiannya, tidak ada apresiasi yang keluar dari orangtua macam itu selama tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Giliran si anak melakukan kesalahan, hujan cemooh dan hukuman dari orangtua yang menanti dirinya. Di sisi lain, sikap terlalu memanjakan dan selalu mengikuti kemauan anak juga bisa merusak anak. Ketiadaan batasan yang ditunjukkan dalam pola pengasuhan orangtua membuat anak merasa di konteks lain pun, ia patut menjadi pusat perhatian, terpenuhi setiap kemauannya, bahkan berpikir superior dibanding orang-orang sekitarnya.

Berikutnya, tanda orangtua beracun terlihat dari diri mereka yang sulit sekali atau bahkan tidak bisa menerima kondisi atau keputusan anaknya. Dimuat The New York Times, psikiater Richard Friedman bercerita, suatu hari salah seorang pasiennya yang berusia 20-an datang dalam kondisi depresi. Setelah menggali pengalaman si pasien, Friedman mengetahui bahwa salah satu pemicu gangguan psikis pasiennya itu adalah penolakan dari orangtuanya setelah ia mengaku gay.

“Pada suatu makan malam [setelah pengakuan si pasien], ayahnya mengatakan kepada dia bahwa lebih baik kalau dia saja yang meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu daripada saudaranya,” tulis Friedman.

Orangtua yang sering mengabaikan anak pun tergolong orangtua beracun. Pengabaian dapat terjadi baik karena kesibukan kerja, tekanan dalam proses pengasuhan, masalah keuangan, atau hal lainnya. Alasan apa pun yang mendasari hal tersebut, kebutuhan emosional anak tidak akan tercukupi sehingga berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya kelak.

Sikap beracun yang ditunjukkan orangtua dapat berhubungan dengan aneka faktor, satu di antaranya adalah nilai-nilai budaya yang dipegang dalam keluarga, misalnya terkait peran gender, pola pengasuhan, serta pembagian hak bagi setiap anggota keluarga. Faktor lainnya adalah pengulangan sikap beracun yang pernah diterima si orangtua dari ibu-bapaknya sendiri.

Potensi Menjadi Sosok yang ‘Toxic’

Ketika bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya.

Selain itu, ia mungkin saja memiliki penilaian diri yang rendah di kemudian hari, merasa terus menerus cemas dan gugup, kehilangan kendali, atau berulang kali menyangkal perasaan-perasaannya. Penumpukan emosi negatif dalam jangka panjang bisa berimbas penurunan kondisi mental seseorang.

Ketika hal ini terjadi, produktivitas dan hidup yang sehat menjadi sulit diwujudkan olehnya. Seiring berjalannya waktu dan berulangnya perlakuan-perlakuan buruk dari keluarga, anak tersebut berpotensi melakukan kembali tindakan beracun yang pernah diterimanya kepada orang lain.

Dalam konteks suami-istri, hubungan tak sehat yang terjalin akan berefek pada bagaimana mereka menjalani peran sebagai orangtua. Kecenderungan seseorang untuk menutupi perlakuan buruk pasangannya dari keluarga besar atau kenalan lainnya pada akhirnya dapat membuat ia semakin kesepian, terisolasi, bahkan jatuh sakit karena perubahan pola makan dan tidurnya.

Waktunya Mendahulukan Kebahagiaan Diri

Dalam berbagai ajaran agama, melawan orangtua dianggap sebagai dosa sehingga banyak anak yang memilih menurut sekalipun sikap orangtua menyakiti mereka.

Menentang kehendak suami dipandang tabu, mengonfrontasi sikap beracun istri dapat memicu pertikaian dan perceraian yang setengah mati ingin dihindari sebagian suami. Ekornya, orang tersebut tidak dapat berbuat apa-apa kecuali bergeming dan berharap anggota keluarga beracun yang dihadapinya suatu saat berubah.