Saturday, August 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Hubungan Filsafat Dengan Agama Serta Kebenarannya

Apa Hubungan Filsafat Dengan Agama Serta Kebenarannya

Dr Fahrudin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam). Sudah hampir enam tahun sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Faiz menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.

Kali itu kajian oleh Faiz berjalan sedikit berbeda. Pada bulan puasa, agenda rutin kajian filsafat tiap Rabu diliburkan. Agenda diganti acara lepasan NgabubuRead dari tanggal 8-12 Mei. NgabubuRead—pelesetan dari ngabuburit alias menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa—meliputi bazar buku, pelatihan menulis, dan kajian artikel-artikel Islami.

Meski lain program dari Ngaji Filsafat, kajian berjalan tak jauh berbeda dari yang biasa. Peserta duduk lesehan mendengarkan, memenuhi serambi masjid hingga area parkiran. Mereka mengikuti kajian dengan santai. Peserta perempuan dan lelaki tahu etiket meski tak dipisah kain hijab atau semacamnya.

Untuk namanya yang telah cukup besar di kalangan pengkaji filsafat di Yogya, tubuh Faiz teramat mungil. Tata bicaranya tak mengkhianati citra akademisi Yogya-nya; penjelasan Faiz runut dan sederhana, bernas dan dibumbui guyon.

Selama lebih dari satu jam, Rina dan Faiz mengobrol soal banyak hal, dari Ngaji Filsafat yang diampu Faiz, soal hijrah, jihad, politik, hingga pengalaman lucu yang datang seiring makin terkenalnya nama Faiz. Juga, tentu saja, soal pertanyaan klasik macam, “Apakah mengaji filsafat membuat seseorang menjadi ragu dan mempertanyakan agamanya?”

Apakah mengaji filsafat pernah membuat Anda menjadi ragu dan mempertanyakan agama?

Ya endak. Kan dari kecil saya diajarkan (soal Islam). Yang ada, saya jadi bertanya: apakah saya sudah beragama dengan benar? Apa saya sudah berislam dengan baik? Jadi bukan (malah) meragukan agama.

Apa sih yang menarik dari filsafat?

Kalau saya sendiri, kalau ditanya tentang filsafat, ya nasib saya memang mengarah ke filsafat. S1 S2 S3 belajar filsafat. Dulu kenapa kok ngambil filsafat waktu S1, juga ndak sengaja (tertawa). Dulu waktu kuliah di sini, saya S1 di IAIN (Sunan Kalijaga) sini, sebenarnya bebas tes. Jadi mau ambil jurusan apa aja tinggal tunjuk, langsung masuk.

Cuma saya tuh nggak terlalu niat kuliah. Jadi waktu sama petugasnya ditanya, “Mas mau ambil jurusan apa? Terserah apa saja bisa, wong bebas tes”, saya bingung toh. Terus (saya balik) tanya, “(Di sini) dari sekian banyak jurusan yang paling ndak laku, yang mana?” Terus dia bilang, “Paling ndak laku ya filsafat.” (Lalu saya putuskan), “Yo wis-lah aku filsafat aja.”

Dulu mikirnya (pilih jurusan) yang paling nggak laku saja, karena nggak terlalu niat kuliah. Bayangan saya, ya kuliahnya santailah kalau nggak terlalu laku. Jadi ya akhirnya gitu: saya tersesat di jalan yang benar.

Buat sebagian orang kan belajar filsafat itu berat.

Berat karena bukan bidangnya. Bagi saya fisika itu berat, matematika berat, karena bukan bidang saya. Bagi orang fisika dan matematika, ya mending fisika matematika daripada biologi dan sosiologi. Karena mereka ndak mendalami itu, rasanya memang berat. Tapi kalau nanti mendalami, concern di situ, sebenarnya ya sama saja kayak bidang keilmuan lain.

Ada saja kan yang menyebut kalau belajar filsafat bisa jadi ateis.

Ada yang belajar filsafat jadi atheis, ada yang belajar filsafat jadi religius; ada yang belajar filsafat jadi anti agama, ada yang jadi sangat beragama. Ada yang kayak Imam Ghazali (filsuf dan teolog muslim asal Persia), ada yang kayak Karl Marx, ada yang kayak Iqbal, ada yang kayak Nietzsche. Itu produknya.

Sama kayak orang belajar agama. Ada yang masuk aliran sesat, ada yang aliran lurus. Sebenarnya sama aja. Bukan salah agamanya. Dasarnya adalah berpikir yang benar. Nah, inti filsafat kan begitu. Produk berpikirnya ya tanggung jawab masing-masing individu, dan ndak ada tuntutan kalau belajar filsafat terus harus manut sama yang anti-Tuhan, harus ikut yang sesat. Ndak begitu.

Tradisi berfilsafat dalam Islam itu seperti apa, sih?

Itu sebenarnya sudah sejak zaman Nabi Muhammad. Dulu ada sahabat namanya Muadh bin Jabal. Dia kan mau dakwah, nah alau di Al-Quran ada dan di hadis ada (penjelasannya), bisa jawab kalau ditanya orang. Tapi kalau di Quran dan hadis nggak ada, ya pakai akal.

Itu perintah untuk berfilsafat dalam agama. Dan Nabi sendiri punya karakter fathanah. Fathanah itu orang yang sangat cerdas; mampu berpikir sangat dalam. Dan itu ciri seorang filsuf—mampu berpikir mendalam.

Dalam sejarah Islam, banyak orang-orang yang dikategorikan sebagai filsuf yang jadi kunci perkembangan dunia ilmiah Islam. Makanya ada yang bilang, begitu umat Islam meninggalkan filsafat, posisinya yang unggul di dunia ilmiah internasional lalu merosot sampai hari ini.

Padahal di abad ketujuh itu kan Islam pusatnya peradaban, pusatnya keilmuan. Dulu juga Yunani jaya dengan ilmu pengetahuan dan filsafatnya, maka mereka disebut pusat peradaban. Itu kuncinya justru bukan di politik, tapi di penguasaan sains.