Monday, August 19Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Benar Pendaki Yang Hipotermia Harus Ditolong Dengan Cara Disetubuhi

Apa Benar Pendaki Yang Hipotermia Harus Ditolong Dengan Cara Disetubuhi

Beberapa hari belakangan, jagad media sosial viral mengenai cerita tentang adanya seorang pendaki yang menolong korban hipotermia dengan cara menyetubuhi korbannya. Akibatnya berita ini pun jadi perbincangan dan perdebatan para netizen. Menanggapi informasi ini, sebagian besar netizen menyatakan metode ini keliru, salah, dan menyesatkan.

Menanggapi informasi yang sedang viral itu, Chintya Tengens, salah seorang anggota Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia, mengatakan kalau itu benar terjadi maka merupakan penanganan yang sangat keliru. Wanita menjadi objek seksual di sini.

“Modus itu, namanya. Bukan begitu caranya. Ada metode penanganan hipotermia yang benar. Misalnya, menyalurkan panas tubuh bisa lewat tangan, kaki, telinga, dan titik-titik panas lainnya. Harusnya memang akun yang mem-posting atau menulis komentar harus hati-hati. Khawatirnya orang bisa salah pemahaman dan takutnya diikuti,” ungkap Tengens melalui pesan singkat.

Viralnya cerita ini berawal dari tangkapan layar yang di-posting seorang pendaki di Instagram pribadinya yang isinya memuat tentang komentar seseorang yang mengatakan dirinya pernah melihat kasus pendaki wanita terserang hipotermia yang kemudian ditangani dengan cara disetubuhi.

Begini isi komentar tersebut: “Yang paling darurat jika sudah sampai tahap hipo mesti disetubuhi. Gw pernah ada kasus cewek yang hipotermia hampir meninggal di Gunung Rinjani. Segala cara pun sudah dicoba tapi cewek ini gak membaik. Akhirnya ada anak mapala yang berpengalaman yang nyaranin untuk menyetubuhi cewek ini agar suhu tubuhnya hangat, akhirnya salah satu teman dekat cowoknya menyetubuhi cewek tersebut. Yang lucunya kami ada 20 orang nungguin di luar tenda sambil nunggu si cowok melakukan itu sambil minum kopi. Alhamdulillah setelah itu cewek itu terselamatkan”.

Untuk menelusuri mengenai informasi ini, saya pun mencari tahu dengan menghubungi beberapa pihak. Salah satunya Doktek Lelita Danukusumo, Founder 4Life First Aid Care Product. Menurutnya, karena beritanya saat ini sudah menyebar viral, yang perlu dicari sekarang adalah dari mana asal-usul pertama kali informasi ini dan harus ditelusuri sumbernya.

“Saya punya tangkapan layar komentar seseorang yang isinya sama dengan informasi yang saat ini viral. Cuma, saya tidak tahu dia itu komentar di mana. Sepertinya sih itu komentar di Youtube,” cerita Dokter Lelita melalui sambungan telepon.

Setelah melihat tangkapan layar tersebut, ternyata isinya memang sama persis dengan informasi yang sedang viral saat ini. Dari situ, saya berusaha mencari sumber aslinya di Youtube dengan keyword ‘hipotermia’ dan kemudian membaca komentar-komentar dari beberapa video tersebut.

Namun, saya belum bisa menemukan komentar itu. Jadi, apakah cerita atau informasi kejadian ini benar atau tidak, sampai saat ini belum bisa diketahui pasti. Namun demikian, cerita dari tangkapan layar ini sudah jadi perbincangan ramai di media sosial.

Menurut Dokter Lelita, ada hal-hal yang harus dipahami dan dimiliki pendaki untuk mencegah terjadinya serangan hipotermia saat mendaki gunung dan apa yang harus dilakukan sebelum melakukan pendakian.

Setiap melakukan kegiatan, pertama kita harus belajar. Apa yang harus dipersiapkan. Apa yang harus dibawa, sesuai dengan kondisi dengan tempat di mana kita akan melakukan kegiatan. Pelajari apa saja risiko dalam pendakian dan bagaimana teknik mencegahnya. Mendaki itu perlu persiapan fisik, logistik, dan pengetahuan.

“Misalnya, namanya kegiatan mendaki gunung, pasti akan merasakan suhu dingin. Untuk persiapannya, pendaki harus membawa pakaian yang proper. Bahan makanan yang sesuai dan bergizi. Dan anak-anak ini, terkadang membawa makanannya cuma mi instan. Pakaian seadanya. Bahkan kadang tidak bawa tenda dan jas hujan. Akhirnya kehujanan dan kedinginan. Kemudian terseranglah hipotermia. Harusnya mereka juga belajar mengenal secara dini gejala awal hipotermia di saat masih ringan. Karena tahap ini masih mudah untuk ditangani,” ungkap Dokter Lelita.

Lebih lanjut, Dokter Lelita juga mengatakan setidaknya teman sependakian juga mengetahui tanda-tanda gejala awal serangan hipotermia ringan, di antaranya: menggigil, jalan sudah mulai tersandung-sandung, diajak bicara tidak nyambung, lemas, disuruh makan susah atau enggak mau, dan lainnya.

Kalau sudah seperti itu, harusnya berhenti. Kemudian bangun tenda atau buat naungan atau bivak sederhana, misalnya, untuk tempat beristirahat yang terlindung dari hujan dan angin. Lalu, jika temannya masih sadar penuh, beri ia minum air hangat dan makanan. Jangan yang mengandung kafein.

Mengenai penanganan korban hipotermia dengan cara skin to skin pada korban hipotermia yang sudah hilang kesadaran, Dokter Lelita mengatakan dari berbagai referensi penanganan korban hipotermia sampai saat ini, ia tidak menemukan teknik tersebut. Apalagi sampai disetubuhi. Tidak ada referensinya itu.

“Jadi yang benar, kalau korban sudah hilang kesadaran cara pertolongan pertamanya, pertama pastikan jalan napas korban terbuka. Cek dan pastikan masih bernapas atau tidak. Kalau masih bernapas, berarti aman. Lalu, cek pakaiannya, basah atau tidak. Jika basah, ganti dengan yang kering. Kemudian bungkus dengan emergency blanket dan masukkan dalam sleeping bag. Sedangkan, jika posisinya tidak sadarkan diri, berarti ia posisi harus dimiringkan stabil,” lanjut Dokter Lelita.

Kembali tentang viralnya korban hipotermia yang disetubuhi, Dokter Lelita mengatakan penanganan itu ngaco dan salah.

“Kita harus cari tahu dari orang yang menulis pertama kali. Kita harus minta klarifikasi. Apakah ia menulis itu ngarang atau kejadian benar. Kalau benar, itu merupakan tindakan pemerkosaan dan hal ini bisa dilaporkan pada polisi karena kondisi orangnya tidak sadarkan diri. Supaya hal ini jadi pelajaran bagi para pendaki lain. Khawatirnya, para pendaki pemula, misalnya, akan berpikir, ‘Oh kalau kena hipotermia caranya seperti itu’. Keterlaluan ngawurnya itu,” tutup Dokter Lelita.