Thursday, December 5Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Apa Alasan Pelaku Penyiraman Air Keras Di Jakarta Barat

Apa Alasan Pelaku Penyiraman Air Keras Di Jakarta Barat

Pelaku teror penyiraman air keras di Jakarta Barat, FY (29), telah ditangkap Polda Metro Jaya. Psikolog yang mendampingi pemeriksaan kejiwaan FY, Kasandra Putranto, menilai pelaku memilih korban secara acak.

“Tidak ada motif khusus, tersangka milih korban secara acak. Lalu kenapa yang dipilih perempuan, mungkin karena perempuan lagi lengah dan tidak konsentrasi,” kata Kasandra di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11).

Polisi menjelaskan, pelaku juga memilih lokasi teror penyiraman air keras juga secara acak. Lokasi dipilih antara rumah pelaku dengan tempat kerja. “Dari TKP, si tersangka ini kerja di Meruya, kemudian punya tempat tinggal di Ciledug. Jadi seiring perjalanan, antara Ciledug dan Meruya,” kata Panit 4 Jatanras Polda Metro Jaya, AKP Adi.

Pelaku berprofesi sebagai tukang servis AC di kawasan Meruya. Adi menjelaskan pelaku melancarkan aksi teror penyiraman air keras menggunakan cairan soda api. “Dari hasil pemeriksaan di TKP dan barbuk, kita temukan bahan yang sama antara TKP 1, 2 dan 3. Yaitu soda api (nama ilmiahnya) Natrium Hidroksida. Bahan bahaya, bisa menyebabkan iritasi pada kulit,” tutup Kombes Pol Andi Firdaus dari Puslabfor Polri.

Pelaku sebelumnya melakukan penyiraman air keras terhadap 8 orang korban pada tanggal 5, 8, dan 15 November. Kini, ia kini ditahan di Polda Metro Jaya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

FY (29) ditangkap oleh unit Jatanras Polda Metro Jaya, pada Jumat (15/11) di Srengseng Sawah, Jakarta Barat. Ia ditangkap karena melakukan penyiraman dengan air keras terhadap 8 orang korban pada tanggal 5, 8, dan 15 November. Polisi segera melakukan pemeriksaan kejiwaan. Sementara ini, polisi mendapatkan hasil, bahwa si penyiram air keras ini pernah merasa tersakiti dan frustrasi atas keadaan dirinya.

“Yang bersangkutan ada frustrasi atas kejadian yang dialami. Jatuh dari lantai 3 lalu kesulitan pembiayaan dan mencoba melampiaskan orang lain,” kata psikolog Kasandra Putranto, dalam jumpa pers di lobi Dirkrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11).

Baca Juga :

 

Akibat kekecewaannya tersebut, FY melampiaskan rasa sakitnya ke orang lain dengan melemparkan air keras. Harapanya orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Kasandra juga menyebut, yang bersangkutan belum ditemukan adanya gangguan halusinasi. “Tidak ditemukan indikasi atau halusinasi walau ada ciri khusus, yakni keterbatasan komunikasi,” kata Kasandra.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh AKP Adi, Kanit Subdit 4 Jatanras Polda Metro Jaya. “Iya, seperti yang dikatakan psikolog, dia ditelantarkan oleh orang tuanya. Intinya gitu,” kata Adi. Atas perbuatannya, FY dijerat Pasal 80 tentang UU Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Pasal 353 KUHP tentang penganiayaan.