Monday, October 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Alasan Konser Base Jam Di Aceh Dibubarkan Oleh Massa

Alasan Konser Base Jam Di Aceh Dibubarkan Oleh Massa

Konser grup musik Base Jam pada saat malam penutupan Aceh Culinary Festival 2019 di Taman Sultanah Safiatuddin berakhir ricuh. Konser Base Jam  ini berlangsung Banda Aceh dan dibubarkan oleh sekelompok massa pada hari Minggu (7/7).

Pantauan acehkini di lokasi, band yang populer di tahun 1990-an itu mengawali konsernya dengan membawakan lagu daerah Aceh berjudul ‘Bungong Jeumpa’. Lalu ada sekelompok massa mulai mendesak Base Jam menghentikan penampilannya saat grup musik itu menyanyikan lagu andalan mereka.

Sekelompok massa itu pun memaksa untuk naik ke panggung, namun dapat dicegah petugas keamanan. Kemudian sejumlah pejabat yang hadir memilih untuk pulang. Base Jam sudah sempat menyanyikan dua lagu sebelumnya akhirnya terpaksa dihentikan. Hal itu atas desakan sekelompok massa saat Base Jam menyanyikan lagu ketiganya sekitar pukul 23.30 WIB.

Para personel Base Jam langsung mengemas peralatan musik mereka, lalu turun dari panggung dan menuju mobil untuk meninggalkan lokasi acara.

Tgk Umar menceritakan awal persoalan kenapa pihaknya menolak grup band ‘Base Jam’ di Aceh. Masalah dipicu dari sebuah poster personel ‘Base Jam’ yang dirancang oleh Tim Kreatif Generasi Pesona Indonesia (GenPI) di bawah Kementerian Pariwisata. Personel perempuan di poster tersebut tidak menutup kepalanya. Hal ini dinilai tidak sesuai dengan aturan syariat Islam yang berlaku Aceh, kemudian juga berpose di atas karikatur masjid Raya Baiturrahman.

Poster tersebut beredar di media sosial, sepekan sebelum gelar acara Festival Kuliner Aceh. “Ini membuat sebagian massa marah, menilai mereka telah merendahkan marwah Aceh,” kata Tgk Umar.

Tuntutan dan penolakan kemudian muncul di media sosial dari sebagian warga Aceh. Tim Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) Aceh, termasuk Tassafi Kota Banda Aceh di dalamnya, melakukan diskusi dengan Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Jamaluddin, di sebuah warung untuk membahas perkara tersebut. “Ada beberapa hal yang disepakati, salah satunya menarik konten poster tersebut di media sosial (Kemenpar), pihak Kemenpar juga telah meminta maaf,” ujar Tgk Umar.

Kesepakatan selanjutnya, ‘Base Jam’ diminta tidak tampil dengan iringan musik pada malam penutupan Aceh Culinary Festival 2019. Namun, hanya tampil untuk meng-endorse atau mempromosikan Kuliner Aceh di atas panggung.

Menjelang ‘Base Jam’ tampil, Tgk Umar mengatakan pihaknya sempat kembali berdiskusi dengan pihak panitia tentang penampilan ‘Base Jam’ di panggung utama Aceh Culinary Festival. Selanjutnya disepakati, grup band itu boleh tampil dengan membawakan lagu-lagu Aceh dan lagu bertema religi, yang sesuai kearifan lokal di Aceh.

Pada malam penutupan, Tgk Umar dan sejumlah massa ikut memantau penampilan ‘Base Jam’ yang membawakan lagu Aceh ‘Bungong Jeumpa’ sebagai pembuka. “Selanjutnya mereka tidak membawa lagu-lagu religi, tapi membawa lagu-lagu mereka sendiri. Massa marah dan meminta (‘Base Jam’) dibubarkan karena tidak sesuai komitmen awal,” tandas Tgk Umar.

Tgk Umar menilai, lagu-lagu tersebut tidak berguna untuk promosi kuliner Aceh, dan tidak bermanfaat dalam hal pariwisata dan budaya Aceh. Pihaknya kemudian meminta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jamaluddin, juga ke panitia untuk menghentikan penampilan Base Jam, agar tidak terjadi ricuh. “Padahal saya sudah ingatkan dari awal,” kata Tgk Umar.