Tuesday, September 22Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Akhirnya Edy Rahmayadi Jelaskan Mengenai Kisruh Luis Milla Dengan PSSI

Akhirnya Edy Rahmayadi Jelaskan Mengenai Kisruh Luis Milla Dengan PSSI

Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi mengakui keterlambatan pembayaran gaji pelatih Timnas Indonesia Luis Milla. Lantaran pemakaian dana untuk mendanai lima pertandingan timnas pada gelaran Internasional. Edy Rahmayadi mengatakan, PSSI sudah melakukan pemanggilan kembali pelatih yang mantan pemain Barcelona FC tersebut, untuk dapat melatih para pemain sepak bolanya tim nasional.

Dikarenakan masih membutuhkan tenaga dan pikiran Luis Mila dalam mengatur strategi-strategi dalam mengolah si kulit bundar. “Lusi Milla, kita memang capek memikirkan ini. Luis Mila itu sudah kita bujuk dia, karena kita butuh. Memang kita akui kita butuh, dan dia sudah banyak berbuat untuk PSSI kita,” kata Edy Rahmayadi saat ditemui, Tribun Medan, selesai melaksanakan salat di Masjid Agung, Selasa (23/10/2018).

Menurut Edy, dana yang telah dikeluarkan untuk mengaji berkisar puluhan miliar rupiah. PSSI sendiri siap untuk membawa dirinya Kembali untuk melatih timnas kembali. “Untuk Luis Milla itu, kurang lebih 30 miliar untuk setahun dan PSSI siap membayarnya,” kata dia. Gubernur Sumatera Utara ini mengaku bahwa keterlambatan mengaji pria berambut cokelat tersebut.

“Memang kemarin terjadi keterlambatan, tidak bisa langsung kita lunasi, karena lima tim harus main, di usia 16, 19, 23, dan usia senior dan putri yang harus main, dan itu harus dibiayai oleh PSSI,” ucapnya. Permasalahan gaji yang sempat viral di jejaring sosial tersebut, Edy Rahmayadi mengatakan sudah diselesaikan.

Pada perjanjian kemarin Luis Milla disebut akan kembali datang untuk melatih para pemain timnas untuk andalan Indonesia, namun tidak terpenuhi. “Sehingga agak terlambat, tapi sekarang sudah selesai, yang janjinya kemarin paling akhir waktunya, Luis Milla akan berangkat ke Indonesia, tapi buktinya tidak berangkat,” katanya.

Edy juga menyampaikan, bahwa Indonesia tidak perlu terlalu berharap kepada Luis Milla, lantaran saat ini banyak pelatih terbaik ada di Indonesia. “Tapi tidak bisa juga Indonesia merengek-rengek seperti itu, meminta-minta tolong. Kalau memang tidak bisa, Indonesia juga masih ada pelatih, Bima sakti yang saat ini kita serahkan (melatih) untuk anak kami,” katanya.

Pada hari minggu yang lalu (21/10/2018), PSSI telah resmi menunjuk Bima Sakti Tukiman sebagai pelatih kepala timnas Indonesia untuk menggantikan Luis Milla. Penunjukkan Bima Sakti itu terpaksa dilakukan karena negosiasi kontrak antara Luis Milla dengan PSSI tidak kunjung mencapai kata sepakat. Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan bahwa beberapa pejabat PSSI mengeluh karena Luis Milla tidak mampu memberikan jawaban pasti.

“Sebagai pengganti dari pada Luis Mila, untuk pemakaian Bima sakti, akan kita evaluasi, apakah harus mencari sosok lain selain Lusi Mila, nanti akan kita evaluasi dulu. Kalau dari dalam bisa kita baca itu pelatih-pelatih kita,” ucapnya. Penunjukan Bima Sakti sebagai pelatih timnas yang baru, menurut Edy, masih akan melakukan evaluasi lebih ke depanya. Tentang bagaimana, Bima Sakti dapat melatih para punggawa yang membawa nama besar Indonesia dari kancah sepakbola Internasional.

“Tidak bisa saya sebagai ketua PSSI langsung memutuskan sembarang begitu, ada di situ mekanisme yang akan kita ambil. Untuk Bima sakti, cukup bagus dari dia secara perorangan secara pribadi semua orang Indonesia tau bahwa dia mantan timnas dan berkualitas, nah untuk menjadi seorang pelatih, tidak hanya cukup mempunyai skill tentang, secara lisensi dia tidak ada masalah, ya okelah, kita lihat,” katanya.

Pelatih asal Spanyol Lusi Mila Pada Minggu (21/10/2018), mengunggah foto beserta ucapan perpisahan karena tidak lagi menjadi pelatih timnas Indonesia. Dalam keterangan itu, Luis Milla juga telah menulis kritik kepada PSSI. Luis Milla bahkan menyebut selama 10 bulan terakhir masa kerja bersama Timnas Indonesia, dirinya merasa telah ada keburukan di dalam manajemen, rendahnya profesionalitas para petinggi, serta pengingkaran perjanjian kontrak yang dilakukan oleh PSSI.